![]() |
| (ilustrasi foto anak putus sekolah kembali sekolah) |
Bondowoso, 8 Juni 2023 — Di balik hamparan perbukitan dan kawasan hutan yang membentang di wilayah utara Bondowoso, masih terdapat berbagai tantangan dalam dunia pendidikan. Jarak sekolah yang jauh, keterbatasan transportasi, kondisi ekonomi keluarga, hingga minimnya akses pendidikan yang memadai menjadi faktor yang menyebabkan sebagian anak terpaksa menghentikan pendidikannya sebelum selesai. Kondisi inilah yang menjadi perhatian serius Pendiri dan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Fatih As-Syafi'i, Kiai Agung Wijaksono, M.Pd.
Berangkat dari keprihatinan terhadap banyaknya anak usia sekolah yang tidak lagi melanjutkan pendidikan, Kiai Agung menggagas sebuah gerakan pendidikan berbasis pesantren yang bertujuan membuka kembali akses belajar bagi anak-anak yang telah meninggalkan bangku sekolah. Menurut beliau, setiap anak memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang layak, tanpa dibatasi oleh kondisi geografis maupun ekonomi keluarga.
Fenomena putus sekolah di daerah pegunungan memiliki beragam penyebab. Sebagian anak harus berhenti sekolah karena lokasi sekolah yang terlalu jauh setelah terjadi penggabungan sekolah. Sebagian lainnya terkendala biaya transportasi, tidak adanya sarana antar-jemput, maupun kondisi ekonomi keluarga yang mengharuskan mereka membantu orang tua bekerja. Tidak sedikit pula anak yang kehilangan semangat belajar karena kurangnya akses terhadap pendidikan yang berkualitas.
Melihat kenyataan tersebut, Kiai Agung memilih untuk tidak tinggal diam. Melalui Pondok Pesantren Al-Fatih As-Syafi'i, beliau menghadirkan konsep pendidikan yang mengintegrasikan sistem pesantren dengan pendidikan formal. Dengan model ini, para santri dapat tinggal di lingkungan pesantren sekaligus mengikuti kegiatan belajar mengajar tanpa harus menempuh perjalanan jauh setiap hari. Kehadiran pesantren menjadi solusi nyata bagi masyarakat pelosok yang selama ini mengalami kesulitan mengakses pendidikan.
Perjuangan tersebut tidak berhenti pada pendirian lembaga pendidikan. Bersama para guru, relawan, dan masyarakat setempat, Kiai Agung aktif mendatangi rumah-rumah warga di daerah terpencil. Mereka melakukan pendekatan secara persuasif kepada orang tua dan anak-anak yang telah lama tidak bersekolah. Dengan penuh kesabaran, mereka memberikan pemahaman tentang pentingnya pendidikan sebagai bekal masa depan serta sebagai sarana meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Pendekatan yang dilakukan mengedepankan nilai-nilai dakwah dan kemanusiaan. Kiai Agung memahami bahwa sebagian masyarakat lebih fokus pada kebutuhan hidup sehari-hari dibandingkan memikirkan pendidikan jangka panjang. Oleh karena itu, setiap ajakan untuk kembali bersekolah selalu disampaikan dengan bahasa yang santun, penuh empati, dan disertai solusi nyata yang dapat membantu keluarga.
Upaya tersebut secara perlahan mulai menunjukkan hasil. Sejumlah anak yang sebelumnya putus sekolah berhasil kembali mengikuti pendidikan melalui Pondok Pesantren Al-Fatih As-Syafi'i. Salah satu kisah yang kemudian menjadi inspirasi adalah seorang anak yang sempat berhenti sekolah sejak kelas IV SD selama lebih dari satu tahun akibat masalah administrasi dan jauhnya akses pendidikan. Setelah mendapatkan pendampingan dari pihak pesantren, anak tersebut berhasil menyelesaikan pendidikan dasar dan melanjutkan ke jenjang Madrasah Tsanawiyah (MTs).
Keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk menyerah terhadap pendidikan. Dengan kepedulian, kerja sama masyarakat, dan komitmen yang kuat, anak-anak yang sebelumnya kehilangan kesempatan belajar dapat kembali menata masa depan mereka.
Melalui gerakan pendidikan ini, Pondok Pesantren Al-Fatih As-Syafi'i tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai pusat pemberdayaan masyarakat yang berupaya mengurangi angka putus sekolah di daerah pedesaan dan pegunungan. Semangat yang terus dipegang oleh Kiai Agung Wijaksono adalah bahwa pendidikan harus hadir mendekati masyarakat, bukan sebaliknya. Sebagaimana gagasan yang melatarbelakangi berdirinya lembaga ini, solusi terbaik bagi anak-anak pelosok bukanlah memaksa mereka menempuh jarak yang jauh untuk bersekolah, melainkan menghadirkan sekolah yang dekat dengan kehidupan mereka.
Gerakan ini menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan Pondok Pesantren Al-Fatih As-Syafi'i, sekaligus menjadi wujud nyata pengabdian pesantren dalam memperjuangkan hak pendidikan bagi seluruh anak bangsa, khususnya mereka yang berada di wilayah terpencil dan kurang terjangkau oleh layanan pendidikan formal.
